Krisis Kepedulian: Sebuah keprihatinan dalam kepamoran diri

Panas – hujan tak mengapa
Mendapat aku bersyukur, alhamdulillah
Tak dapat pun tak meminta
Hanya memohon belas kasih aku

Duduk di dekat lampu bangjo
Di atas aspal jalan raya
Panas adalah udaraku
Hujan minumanku

Bersama anak-anak dan pelantun jalanan
Mencari makanlah aku
Syukur dapat makan sekali saja sehari
Tapi ya sudahlah…

Banyak sekali saudara kita di luar sana yang kurang beruntung. Terlalu banyak. Mereka terpencil dalam penjara kemiskinan dan kelaparan di antara gemerlapnya dunia sekitar yang setiap hari ‘menyiksa’ batin dan jasmani mereka. Di antara lalu-lalang kendaraan bermotor, dari kendaraan roda dua hingga mobil mewah yang sliwar-sliwer dengan kegagahan dan kearogannya yang seolah ingin berkata “Aku akan menindasmu!” semakin membuat batas yang sangat jelas antara yang kaya dan yang miskin, antara yang kelaparan dan berlimpah, si kaya dan si miskin.
Dunia yang semakin modern memang membuat kecenderungan yang hampir dapat dipastikan bahwa betapa dunia ini adalah suatu pertandingan yang kental sekali dengan persaingan dan semacamnya. Hal ini sebanding dengan tingkat kepedulian yang semakin mendekati titik kritis, atau kasarnya boleh dikatakan peduli karena memang ada maunya. Kata-kata ini dirasa terlalu pedas memang, tetapi itulah yang terjadi di belahan dunia ini, khususnya di kota-kota besar di Indonesia. Tak terlalu mencengangkan bagi mereka yang sejak lahir sampai sekarang hidup di kota besar dan tak pernah ‘mengenal’ berkekurangan atau setidak-tidaknya pernah merasakan penderitaan tidak memiliki uang untuk makan, apalagi rumah tempat tinggal.
Kenyataan yang terlihat sebagai contoh misalnya para pengemis (seorang ibu dan anaknya) di perhentian lalu lintas. Hanya beberapa orang saja yang memberi, terlepas dari ikhlas atau tidak, hanya mereka yang memberi yang tahu. Ada juga yang tidak memberi tetapi mengomel, “Masih muda kok ngemis!”, “Dasar pemalas!” dan sebagainya. Syukur kepada mereka yang masih memiliki kepedulian, bahwa mereka memberi karena mereka ingin memberi. Kita tak pernah berpikir, mengapa mereka mengemis, bagaimana kehidupan mereka sehari-hari atau sebagainya yang melatarbelakangi keputusan mereka untuk mengemis. Hampir 100% dapat diyakini, keputusan mereka untuk mengemis adalah keterpaksaan, hal yang memalukan, kecuali yang telah terbiasa. Mereka berani mengambil resiko apapun demi uang yang mungkin tak seberapa.
Kepedulian yang hakiki yang berasal dari dalam diri janganlah sampai hilang atau pudar. Contoh-contoh di atas hanyalah dua di antara jutaan kasus. Memberilah jika ingin memberi. Tugas Bimbingan dan Konseling salah satunya ialah mencoba menggali masalah ini lebih lanjut dengan terjun langsung ke lapangan, bisa di LSM, yayasan sosial, panti asuhan, atau bahkan perusahaan yang peduli terhadap masalah ini.

Published in: on May 5, 2009 at 2:41 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://sampinggubug.wordpress.com/2009/05/05/krisis-kepedulian-sebuah-keprihatinan-dalam-kepamoran-diri/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: